Tentang Nusantarasophy
Proyek Nusantarasophy merupakan kelanjutan dari kegelisahan saya sajak muda, mengapa Nusantara (Asia Tenggara), cenderung diabaikan dalam kajian-kajian akademik. Apakah betul Asia Tenggara hanya berisi kumpulan pengaruh dari peradaban asing (India, Cina, Islam, Barat) dan tidak memiliki identitas asli yang otentik? Kegelisahan ini pada akhirnya menemukan jawaban yang bulat pada visi intelektual dari Paul Mus (1902–1969) seorang orientalis Prancis, yang menyatakan bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan kelanjutan dari kebudayaan sangat kuno yang ia sebut sebagai kebudayaan Selendang Muson (Escharpe des Moussons), yang membentang dari India Timur hingga Cina Selatan. Menurut Mus, kebudayaan kawasan ini sudah ada jauh sebelum peradaban India dan Cina muncul, bahkan menjadi salah satu sumber dari kedua peradaban tersebut.
Asia Tenggara selalu dianggap sebagai satelit yang dipengaruhi oleh dari peradaban India dan Cina--belakangan juga oleh Islam dan Barat--karena dilihat dari perspektif historis berdasarkan catatan dari sumber-sumber eksternal tersebut--seorang arkeolog menyebutnya sebagai "tirani naskah tertulis" (tyranny of the written texts). Jika menggunakan jangka waktu prasejarah yang jauh (deep prehistory) sebagaimana dikemukakan Mus, maka Asia Tenggara akan tampak sebagai sebuah peradaban yang utuh dan otentik, berporos pada dinamika internalnya sendiri, dan bahkan mempengaruhi peradaban-peradaban besar di sekitarnya.
Selama ini visi intelektual Paul Mus ini hanya dianggap sebagai simulasi teoritis spekulatif yang tidak memiliki basis empirik. Namun temuan arkeologis, linguistik, dan terutama studi genetik kontemporer menunjukkan bahwa budaya Asia Tenggara memang jauh lebih tua dari India dan Cina.
Proyek Nusantarasophy ini memiliki tiga tujuan pokok:
Pertama, secara sosiologis, merumuskan sebuah teori yang mengargumenkan bahwa Asia Tenggara adalah sebuah peradaban yang sangat tua, utuh dan otentik, bukan sekedar derivasi peradaban asing, dengan empat elemen penciri: penghormatan pada tanah, pemujaan pada leluhur, sistem kekerabatan kognatik, dan tradisi membangun konsensus;
Kedua, secara epistemologis, merumuskan nalar peradaban Asia Tenggara yang saya namakan "pragmatisme performatif"--bagaimana bangsa-bangsa Asia Tenggara selalu bersemangat untuk mengadopsi pengaruh peradaban-peradaban asing yang dianggap unggul, lalu didomestikasi dan dilokalisasi agar selaras dengan identitas peradaabannya sendiri;
Ketiga, secara politik, merumuskan sebuah kerangka moral yang saya sebut sebagai "algoritma moralitas harmoni", yaitu tradisi normatif masyarakat Asia Tenggara untuk membangun kehidupan yang harmonis, bukan hanya secara spasial antara berbagai tradisi agama, ideologi, dan politik, namun juga secara temporal antara masa kini dengan masa lalu dan masa depan, yang terbukti telah berhasil membuat Asia Tenggara sebagai satu-satuny kawasan dimana berbagai agama dunia, wacana ideologis, dan sistem politik kenegaraan dapat hidup berdampingan secara damai.
Tentang Saya
Kedua orang tua saya lulusan jurusan Perbandingan Agama tahun 1970-an–dalam tradisi Religionswissenschaft Max Müller–sehinga sejak remaja saya sudah akrab dengan literatur agama-agama koleksi orang tua. Ketika akhirnya saya juga kuliah pada jurusan Perbandingan Agama, tradisi Religionswissenschaft yang menjadikan studi agama-agama sebagai kajian lintas disiplin, dan menjadikan disiplin-disiplin sosial-humaniora sebagai “alat bantu” yang harus dikuasai: teologi, filsafat (agama), sejarah (agama), arkeologi (agama), sosiologi (agama), antropologi (agama), psikologi (agama), politik (agama), dst, telah membentuk kesadaran intelektual saya tidak sensitif terhadap batas-batas disiplin akademik. Saya merasa leluasa untuk membaca, menginternalisasi, dan berargumen, secara lintas disiplin. Sehingga saya pernah dijuluki “intelektual asongan” karena bicara beragam topik dalam berbagai ruang disiplin ilmu.
Ketidakpekaan terhadap batas disiplin ilmu inilah yang mengantarkan saya menyusuri pengembaraan intelektual yang panjang. Sejak mahasiswa S1 di awal era 1990-an, saya sudah merasa tertarik sekaligus gelisah, mengapa dalam studi agama-aga Asia Tenggara tidak banyak dijadikan objek kajian. Kawasan ini seperti hanya menjadi tempat perjumpaan pengaruh agama-agam dunia–India, Cina, Timur Tengah, Barat– menjadikannya kawasan yang sangat plural agama dan budaya, namun tidak memiliki identitas asli yang jelas. Setelah membaca karya Frihtjif Schuon The Transcendent Unity of Religions (1984), yang mengargumenkan bahwa agama-agama berbeda pada level eksoteris, namun menyatu pada level esoteris, saya terinspirasi untuk menulis secara spekulatif bahwa keragaman agama dan budaya di kawasan Nusantara (dalam arti Asia Tenggara) memiliki akar yang menyatu, meski belum tahu itu apa, yang terbit dalam tulisan "Antara Sinkretis dan Pluralis: Perennialisme Nusantara" (1996)
Setelah melanjutkan kuliah S3 di jurusan ilmu politik, kemudian berkenalan dengan perspektif parsimoni seperti pilihan rasional (rational choice), dan alternatifnya seperti rasionalitas terkekang (bounded rationality) dan institusionalisme, saya semakin mengerti bahwa perbedaan antara berbagai disiplin ilmu sosial humaniora bukanlah objek kajiannya, melainkan pemodelan perilaku aktor manusianya: ada yang mengasumsikan tindakan manusia ditentukan oleh faktor-faktor eksternal (sejarah, arkeologi, sosiologi, antropologi), ada yang mengasumsikannya dipengaruhi faktor-faktor internal (psikologi, ekonomi, politik), dan ada yang mengasumsikan perpaduan keduanya (studi kognitif). Mempelajari ilmu politik juga tanpa sadar membawa saya untuk mendalami politik ilmu: bahwa disiplin ilmu dan teori-teori yang muncul tidaklah bersifat alami, melainkan pada tingkatan tetentu karena dorongan kepentingan ekonomi, politik, budaya, dsb.
Kegelisahan terhadap fenomena Asia Tenggara muncul lagi sekitar tahun 2015, bermula dari membaca sebuah korpus kajian tentang filosof Muslim Ibnu Sina, yang direkonstruksi sebagai seorang Aristotelian, dan bukan Neo-Platonian sebagaimana yang sebelumnya saya fahami, dan menemukan tulisannya berjudul Fi Aqsām al-ʿUlūm al-ʿAqliyah dimana ia mengatakan bahwa tingkatan tertinggi kerangka perilaku manusia adalah agama (nubuwah)--mengupdate klasifikasi tingkatan Aristotelian etik (indvidu), ekonomi (keluarga), politik (publik)--namun alat terbaik untuk memahami agama adalah politik. Di kalangan pengkaji Ibnu Sina doktrin ini dianggap membingungkan--bagaimana agama lebih tinggi dari politik, namun hanya bisa dipahami melalui politik--sehingga bahkan ada yang menganggap kutipan tersebut palsu. Namun bagi saya ini justru menjadi puncak pencerahan yang merangkum lapisan-lapisan keilmuan yang sudah saya pelajari: bahwa etika, ekonomi, politik, dan agama adalah hierarkhi kompleksitas kehidupan; namun dalam konteks mekanisme kinerja, hierarkhi tersebut bekerja terbalik: cara terbaik memahamai agama adalah politik (Ibnu Sina), cara terbaik memahami politik adalah ekonomi (rational choice), dan cara terbaik memahami ekonomi adalah etika (Weber, Etika Protestan). Doktrin Ibu Sina ini sekaligus menjadi segel pemahaman saya bahwa di balik dinamika pengetahuan–termasuk pengetahuan agama yang disakralkan, dan pengetahuan budaya yang dihormati–ada mekanisme pertarungan kepentingan dan kekuasaan. Artinya, bahwa profil Asia Tenggara yang saya prihatinkan tidak serta-merta mencerminkan kondisi alami, melainkan lebih menggambarkan siatuasi pertarungan politik pengetahuan yang ada.
Saya merasa beruntung tidak “terjerumus” ke dalam perspektif konflik Marxist karena sempat mendalami teori Sociology of Knowledge Approach to Discourse (SKAD) dari sosiolog Jerman kontemporer Reiner Keller, yang menjabarkan bahwa pertarungan kepentingan tidak selalu berasal dari kerakusan kekuasaan, melainkan dari gesekan beragam upaya mencari makna. Terakhir, perkenalan dengan karya Paul Mus L'Inde vu de l'Est: cultes indiens et indigenes au Champa (1934) yang menyatakan bahwa Asia Tenggara lebih tua dan justru mempengaruhi Peradaban India dan Cina memberikan jawaban yang utuh terhadap kegelisahan saya selama tigapuluh tahun, yaitu bahwa Asia Tenggara adalah sebuah peradaban otentik, yang memiliki perspektif unik tentang kehidupan. Dari sinilah lahir Nusantarasophy.
Jelajahi kumpulan buku yang merefleksikan pemikiran dan kajian mendalam mengenai peradaban Asia Tenggara, Islam, serta integrasi antara tradisi lokal dan ilmu sosial. Setiap karya menyuarakan sudut pandang Nusantara dalam memahami dunia.